Kamis, 20 Oktober 2011

Pesarehan/ Makam "Mbah Iman Sedjati"

Sejarah Singkat

Berdasarkan atas cerita dari juru kunci makam (Bpk. Suparji) disebutkan bahwa Mbah Imam Sedjati/ Mbah Iman sedjati merupakan salah satu keturunan pakubuwono ke II. Sri Susuhunan Pakubuwana II (lahir: Kartasura, 1711 – wafat: Surakarta, 1749) adalah raja terakhir Kasunanan Kartasura yang memerintah tahun 1726 – 1742 dan menjadi raja pertama Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1745 – 1749. Karena adanya persaingan perebutan kekuasaan maka Mbah Imam Sedjati menyingkir dari dunia politik dan berhijrah ke dusun di daerah Blitar. Tepatnya di dsn. Banjarjo Desa Bangsri Kec. Nglegok Kab. Blitar.

Disebutkan pula bahwa ketika Sunan Ampel melakukan perjalanan Uzlah ke Pantai popoh, beliau mampir/ singgah ke makam mbah imam Sejati untuk istirahat dan mejang para muridnya. Sang sunan meninggalkan surbannya di makam ini dan beliau memberikan nama untuk mbah imam sedjati dengan sebutan Iman Sedjati.

Disebutkan lagi bahwa ketika Raden Aryo Blitar (RM. Aryo Ronggo Hadinegoro tahun 1866) dalam masa mudanya bernama niloswarno diutus oleh ayahnya (Pakubuwana ke IV) untuk mencari pamannya yang berada di wilayah mataram sebelah timur dan untuk menumpas bangsa tar2, yang pada masa itu belum ada sebutan blitar, yg ada kekuasaan adalah kadipaten srengat dan lodoyo.
Ketika tiba beliau berniat ziarah ke Penataran dan tatkala melewati makam mbah imam, beliau mendengar suara bahwa beliau bakal menjadi penggede/ adipati di Blitar. Mbah Imam Sejati inilah ternyata merupakan Paman dari Nilaswarna yang selama ini dia cari.

Nilaswarna setelah pulang dari ziarah singgah sementra di suatu hutan. Di hutan ini pusakanya yang berupa keris nogososro tertinggal. Ketika beliau berniat mencari pusakanya kembali ke hutan tersebut ternyata sudah tidak dapat diketemukan. Beliau akhirnya mengatakan bahwa suatu saat daerah tersebut akan bernama Kledan, berasal dari sebutan kleden (dalam bahasa Jawa berarti tertinggal). Karena mendengar suara ini, setelah kembali dari ziarah ke Penataran Nilaswarna terkenal dengan sebuan Nilaswara.
Dalam usahanya menumpas bangsa Tar-tar yang terkenal kejam, perjuangan Nilaswara pun akhirnya berhasil, hingga bangsa tar-tar pulang ke negeri asalnya. Akan tetapi karena merasa sudah cocok hidup di Blitar, bangsa tar-tar meminta izin kepada Nilaswara untuk kembali tinggal di Blitar. Permintaan merekapun dipenuhi dengan syarat mau takluk dengan penguasa dan berbuat baik kepada sesama. Dengan kembalinya bangsa tar-tar inilah maka wilayah ini terkenal dengan sebutar Blitar. Yakni Balitar (kembalinya bangsa tar2.)  .

Keberadaan makam Mbah Sedjati jauh ada sebelum keberadaan Blitar sendiri. Dari cerita masyarakat sekitar disebutkan bahwa ketika babat daerah Banjarjo makam mbah Iman Sedjati sudah ada. Orang yang babat daerah Banjarejo kala itu adalah ayah dari Mbah Suto, dan oleh ayah mbah Suto kemudian dilakukan perawatan terhadap makam dan diberi cungkup dari kayu jati. Nama Banjarejo sendiri berasal dari kata Banjar (tempat pertemuan) dan Reja (rame). Dikatakan banjar (bahasa Jawa) yang berarti tempat berkumpul karena jauh sebelum dilakukan babat daerah ini, makam Mbah Iman Sedjati sering dipergunakan sebagai tempat pertemuan para sesepuh dari berbagai penjuru daerah untuk membahas berbagi permasalahan masyarakat pada masa itu..

Pada tahun 2010 cungkup makam mbah Imam roboh, kemudian atas inisiatif Kepala Desa Bangsri, yakni Bpk. Masyhud Thalhah, BA dan dibantu oleh juru kunci yakni bpk. Suparji serta dibantu oleh masyarakat sekitar secara gotong royong dilakukakn pembangunan terhadap cungkup makam tersebut. Pembangunan makam sampai saat ini terus dilakukan secara swadaya masyarakat karena makam tersebut disamping sebagai salah satu peninggalan budaya juga karena sering digunakan masyarakat sekitar untuk berziarah.

Makam Mbah Iman Sedjati merupakan salah satu peninggalan budaya yang harus dilestarikan. Baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat pada umumnya. Keberadaan makam yang kurang diperhatikan oleh pemerintah mungkin disebabkan karena belum diketahuinya secara luas dikalangan masyarakat, lain halnya dengan keberadaan makam Adipati Aryo Blitar maupun makam syekh Subakir yang telah banyak dikenal oleh masyarakat luas. 






Gambar 1.
Cungkup Makam yang baru














 

Gambar 2.
Penemuan Arca di lokasi makam




 Gambar 3
Pembangunan siring (penangkis erosi) makam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar